Skip to content
Inovatif, Profesional dan Berkepribadian
twitter
youtube
instagram
BPM
Call Support 081397167001
Email Support [email protected]
Location Jl. Kolam No. 1 Medan Estate
  • BERANDA
  • TENTANG
    • Profil BPMID
    • Visi dan Misi
    • Fungsi & Tujuan
    • Struktur Organisasi
    • Pimpinan Organisasi
    • Program Kerja BPMID
  • BERITA KEGIATAN
  • PUSAT
    • PPMI
      • SPMI
      • AMI
    • PPMEI
  • LAYANAN DAN INFORMASI
    • ARSIP
      • ARSIP DIGITAL
        • ARSIP BPMID
        • Artikel
      • BEST PRACTICE
      • Laporan Hasil Survey
    • Aplikasi
      • SPMI UMA
      • OPAC
      • SWAMP-D
      • ACADEMIC ONLINE CAMPUS (AOC)
      • PERPUSTAKAAN UMA
      • REPOSITORI
    • HELP DESK
  • KERJASAMA

Peradaban yang Lupa Memperbaiki: Mengapa Budaya Sekali Pakai Menjadi Ancaman Global?

Posted on 20/07/202620/07/2026 by redha
0

Pendahuluan: Ketika Kerusakan Tidak Lagi Diperbaiki, Melainkan Diganti

Tidak lama dahulu, memperbaiki barang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Sepasang sepatu yang solnya lepas dibawa ke tukang jahit sepatu. Radio yang rusak diperbaiki oleh teknisi elektronik. Pakaian yang sobek dijahit kembali. Perabot rumah yang mulai rapuh dipoles atau diperkuat agar tetap dapat digunakan. Bahkan sebuah jam tangan dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya karena terus dirawat dan diperbaiki.

Kini, kebiasaan tersebut perlahan menghilang.

Ketika telepon pintar mulai melambat, banyak orang memilih membeli model terbaru daripada memperbaikinya. Ketika printer mengalami kerusakan kecil, biaya servis sering kali hampir sama dengan harga unit baru. Pakaian yang masih layak pakai dibuang hanya karena mengikuti tren mode yang berubah cepat. Peralatan elektronik, furnitur, mainan anak, hingga peralatan rumah tangga semakin banyak diproduksi dengan masa pakai yang pendek.

Masyarakat modern perlahan memasuki budaya yang lebih mengutamakan mengganti daripada memperbaiki. Barang diperlakukan sebagai sesuatu yang sementara, bukan sebagai aset yang layak dirawat dalam jangka panjang.

Fenomena ini mungkin tampak sebagai konsekuensi alami dari kemajuan teknologi dan meningkatnya daya beli masyarakat. Namun jika dilihat lebih jauh, budaya sekali pakai telah menjadi salah satu tantangan terbesar bagi keberlanjutan lingkungan, ekonomi, dan bahkan cara manusia memandang nilai sebuah benda.

Pertanyaannya bukan lagi mengapa kita membeli lebih banyak barang, melainkan mengapa kita semakin jarang berusaha memperbaiki apa yang sudah kita miliki.


Dari Budaya Merawat Menuju Budaya Mengganti

Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam.

Pada masa lalu, barang diproduksi dengan orientasi jangka panjang. Kualitas menjadi ukuran utama karena proses produksi membutuhkan sumber daya yang mahal dan distribusi barang tidak semudah sekarang. Memiliki satu barang yang tahan puluhan tahun merupakan sesuatu yang lazim.

Seiring berkembangnya industrialisasi dan produksi massal, biaya pembuatan barang menurun secara signifikan. Barang menjadi lebih mudah diperoleh dan lebih murah dibanding sebelumnya. Di satu sisi, perkembangan ini meningkatkan kesejahteraan karena lebih banyak orang dapat menikmati berbagai produk yang dahulu sulit dijangkau.

Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga mengubah perilaku konsumen. Ketika harga barang baru semakin murah, biaya memperbaiki sering kali terasa tidak lagi ekonomis.

Akibatnya, keputusan mengganti barang menjadi pilihan yang dianggap lebih praktis daripada memperbaikinya.


Ketika Produk Dirancang untuk Tidak Bertahan Lama

Salah satu isu yang banyak dibahas dalam ekonomi modern adalah planned obsolescence, yaitu strategi desain produk yang membuat masa pakainya menjadi terbatas, baik secara teknis maupun secara psikologis.

Dalam beberapa kasus, sebuah produk masih dapat berfungsi dengan baik, tetapi pembaruan perangkat lunaknya dihentikan sehingga pengguna terdorong membeli versi terbaru. Pada kasus lain, suku cadang dibuat sulit diperoleh atau biaya perbaikannya sangat mahal.

Selain itu, perubahan desain dan tren pemasaran juga menciptakan apa yang disebut perceived obsolescence, yaitu kondisi ketika suatu barang masih berfungsi sempurna tetapi dianggap sudah “ketinggalan zaman”.

Akibatnya, keputusan mengganti barang tidak lagi didorong oleh kebutuhan, melainkan oleh persepsi bahwa sesuatu yang baru selalu lebih baik.


Fast Fashion: Ketika Pakaian Kehilangan Umur Panjangnya

Industri fesyen menjadi salah satu contoh paling nyata dari budaya sekali pakai.

Dahulu, pakaian dibuat untuk digunakan bertahun-tahun. Kini, banyak merek mengeluarkan koleksi baru hampir setiap minggu. Harga yang relatif murah membuat konsumen membeli lebih banyak daripada yang benar-benar dibutuhkan.

Tidak sedikit pakaian yang hanya dipakai beberapa kali sebelum akhirnya tersimpan di lemari atau dibuang.

Di balik harga yang murah terdapat biaya lingkungan yang sangat besar. Produksi tekstil membutuhkan air dalam jumlah besar, energi, bahan kimia, serta menghasilkan limbah yang sulit terurai. Ketika pakaian dibuang dalam jumlah masif, tempat pembuangan akhir semakin terbebani oleh material sintetis yang membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk terurai.

Dengan demikian, persoalan fast fashion bukan hanya tentang gaya hidup, tetapi juga tentang keberlanjutan sumber daya alam.


Limbah Elektronik: Gunung Sampah Abad Digital

Budaya mengganti juga sangat terlihat pada perangkat elektronik.

Setiap tahun, jutaan telepon pintar, komputer, televisi, dan berbagai perangkat digital digantikan oleh model baru. Sebagian memang sudah rusak, tetapi banyak pula yang sebenarnya masih berfungsi dengan baik.

Masalahnya, limbah elektronik bukanlah sampah biasa.

Perangkat elektronik mengandung logam langka, plastik, kaca, dan berbagai bahan kimia yang memerlukan proses pengolahan khusus. Jika dibuang sembarangan, kandungan logam berat seperti timbal, merkuri, dan kadmium dapat mencemari tanah serta sumber air.

Di sisi lain, produksi perangkat baru juga membutuhkan penambangan mineral dalam jumlah besar, seperti litium, kobalt, nikel, dan unsur tanah jarang. Dengan kata lain, setiap barang yang dibuang sebenarnya mewakili sumber daya alam yang telah diekstraksi dari bumi.


Hilangnya Budaya Memperbaiki

Perubahan ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada struktur sosial dan ekonomi.

Di banyak daerah, profesi seperti tukang servis elektronik, penjahit, tukang reparasi sepatu, atau teknisi peralatan rumah tangga mulai berkurang karena masyarakat lebih memilih membeli barang baru.

Padahal budaya memperbaiki memiliki nilai ekonomi yang penting. Selain memperpanjang umur barang, kegiatan reparasi menciptakan lapangan kerja lokal yang tidak mudah digantikan oleh otomatisasi.

Ketika budaya memperbaiki melemah, masyarakat kehilangan bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga nilai kesabaran, kreativitas, dan penghargaan terhadap proses.


Ekonomi yang Menghasilkan Sampah

Model ekonomi linear yang mendominasi saat ini mengikuti pola sederhana: mengambil sumber daya, memproduksi barang, menggunakan, lalu membuangnya.

Model tersebut berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi selama puluhan tahun. Namun ketika populasi dunia terus bertambah dan konsumsi meningkat, pola tersebut menjadi semakin sulit dipertahankan.

Bumi memiliki sumber daya yang terbatas. Mineral, kayu, air, dan energi tidak tersedia tanpa batas. Jika pola konsumsi terus mengikuti budaya sekali pakai, tekanan terhadap lingkungan akan semakin besar.

Artinya, persoalan utama bukan hanya jumlah sampah yang dihasilkan, tetapi juga jumlah sumber daya baru yang terus diekstraksi untuk menggantikan barang-barang yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan.


Ekonomi Sirkular: Mengembalikan Nilai Barang

Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, banyak negara mulai mendorong konsep ekonomi sirkular (circular economy).

Berbeda dengan ekonomi linear, ekonomi sirkular berupaya mempertahankan nilai suatu barang selama mungkin melalui perbaikan, penggunaan kembali, pembaruan, daur ulang, dan desain yang lebih tahan lama.

Dalam model ini, sebuah produk tidak dipandang sebagai barang yang segera menjadi sampah, melainkan sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai setelah masa penggunaan pertamanya berakhir.

Konsep ini juga mendorong produsen untuk merancang barang yang lebih mudah diperbaiki dan dibongkar sehingga komponennya dapat dimanfaatkan kembali.


Hak untuk Memperbaiki (Right to Repair)

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul gerakan global yang dikenal sebagai Right to Repair atau hak untuk memperbaiki.

Gerakan ini memperjuangkan agar konsumen memiliki akses terhadap suku cadang, panduan teknis, serta alat yang diperlukan untuk memperbaiki produk yang mereka beli.

Pendukung gerakan ini berpendapat bahwa ketika seseorang membeli suatu barang, ia seharusnya memiliki hak penuh untuk memperbaiki dan memperpanjang umur pakainya.

Selain mengurangi limbah, pendekatan ini juga meningkatkan daya tahan produk serta memberikan kebebasan lebih besar kepada konsumen.


Memperbaiki Cara Pandang terhadap Barang

Pada akhirnya, persoalan budaya sekali pakai bukan hanya mengenai teknologi atau ekonomi, tetapi juga mengenai cara manusia memandang hubungan dengan benda-benda yang dimilikinya.

Barang bukan sekadar objek konsumsi. Di dalamnya terdapat energi, bahan baku, tenaga kerja, pengetahuan, serta sumber daya alam yang telah digunakan untuk memproduksinya.

Ketika sebuah barang dibuang sebelum benar-benar mencapai akhir masa pakainya, sesungguhnya bukan hanya barang tersebut yang hilang, tetapi juga seluruh sumber daya yang telah diinvestasikan untuk menciptakannya.

Menghargai sebuah benda berarti juga menghargai proses panjang yang membuat benda itu hadir dalam kehidupan kita.

Tags: artikel, bpm, rapat, uma, uma terbaik

INSTAGRAM

I9 Form

PETA LOKASI

Berita Terbaru
Pemantuan dan Monitoring Penyusunan Laporan Dampak UMA Tahun 2025
...
Pelaksanaan Wisuda Periode I Tahun 2026
...
UMA Gelar Rapat Koordinasi Pengisian IKU PTS 2026 dan Pelaporan Dampak Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan
...
Delegasi Universiti Kuala Lumpur Kunjungi Laboratorium Teknik Elektro UMA, Perkuat Kerja Sama Internasional
...
Seleksi Magang Jepang Batch 4 dan 5 Resmi Digelar, UMA Siapkan Talenta Global dari Sumatera Utara
...
KAMPUS I
Jalan Kolam Nomor 1 Medan Estate / Jalan Gedung PBSI, Medan 20223
(061) 7360168
[email protected]
KAMPUS II
Jalan Sei Serayu Nomor 70 A / Jalan Setia Budi Nomor 79 B, Medan 20112
(061) 42402994
[email protected]

  • 242
  • 215
  • 6,376
  • 39,892
  • 677,581
  • 341,334
  • 8
© 2026 BPM - Universitas Medan Area | Inovatif, Profesional dan Berkepribadian